Home Blog

16 keajaiban ditunjukkan Sang Buddha untuk mengubah Kassapa bersaudara menjadi Buddhis

0

14.1 Tata bahasa Indonesia:

1. Huruf besar di awal kata hanya dipakai untuk kata benda nama diri, misalnya Jakarta, John, Juni, dan ketika kata itu memulai kalimat.

2.Huruf besar juga menunjukkan seseorang yang besar dan terhormat, misalnya Sang Buddha, hanya dipakai jika orang lain yang bersangkutan telah mengetahui kebesarannya.Contoh: sebelum menjadi siswa Sang Buddha, Uruvelā Kassapa bercakap-cakap dengan-Nya tanpa mengubah kata “Buddha” diawali dengan kata “Sang” dan “engkau” tanpa mengubahnya menjadi huruf besar “Engkau.”

14.2 Selama masa hidup Sang Buddha, pemujaan api yang dipraktikkan oleh Kassapa bersaudara—Uruvelā Kassapa, Nadī Kassapa, dan Gayā Kassapa— dan 1.000 pengikut pertapa mereka yang berambut gimbal menggambarkan puncak ritualisme Veda, kemurnian pertapaan, dan keahlian spiritual di India kuno. Merawat api suci diyakini dapat membersihkan karma buruk dan menghubungkan umat manusia dengan para deva.

14.3 Makna dan tujuan pemujaan api

Pengorbanan Veda: Praktik itu berasal dari tradisi Veda kuno saat persembahan (seperti bubur nasi dengan gula) ke dalam api suci menjaga tatanan di bumi ini dan menyenangkan para dewa.

Kassapa bersaudara, terutama Uruvelā Kassapa yang tertua, menjadi terkenal di seluruh India karena praktik yang salah itu dan praktik mereka adalah pemuncak kepercayaan Veda di India. Karena itu, mereka menganggap diri mereka sebagai Arahat dan demikian juga orang lain yang memuja mereka.

Sang Buddha menunjukkan 16 keajaiban dirinya untuk menunjukkan kepada Uruvelā Kassapa bahwa Ia maha suci.

Jalan menuju kesucian: Saudara-saudara itu percaya bahwa memelihara api dan hidup sebagai pertapa berambut gimbal (jatila) merupakan jalan tertinggi menuju kesucian, pahala, dan pembebasan tertinggi. 

  • Sang Buddha memperbaiki kesalahan pandangan itu dengan mengumpamakan api yang membakar indria-indria kita:
  • Kesombongan spiritual: Uruvelā Kassapa sangat dihormati di seluruh India sebagai seorang bijak dan guru agung, yang secara keliru percaya bahwa ia telah mencapai pencerahan penuh.

Melalui 16 keajaiban-Nya yang dipertontonkan-Nya di hadapan Uruvelā Kassapa di bawah ini, Sang Buddha merontokkan pandangan salah orang India pada waktu  tentang Uruvelā Kassapa.

14.4 Inilah ceritanya:

Keajaiban-keajaiban

Setelah menegakkan kelompok tiga puluh pangeran yang berbahagia dalam tiga jalan dan buah-buah (magga dan phala) yang lebih rendah dan menahbiskan mereka, Sang Buddha melanjutkan perjalanannya dan tiba di Uruvelā.

Pada saat itu, ada tiga bersaudara petapa: 1) Uruvelā Kassapa, yang merupakan kakak tertua dan pemimpin serta guru  500 siswa petapa; 2) Nadī Kassapa, yang merupakan saudara tengah dan pemimpin serta guru  300 siswa petapa; dan 3) Gayā Kassapa, saudara termuda, pemimpin dan guru  200 siswa petapa.

Keajaiban Pertama

Sang Buddha pergi ke petapaan Uruvelā Kassapa dan mengajukan permohonan demikian: “Jika tidak terlalu memberatkan bagimu, wahai Kassapa, Aku ingin menginap di rumah apimu untuk satu malam.” — “Itu tidak memberatkan bagiku,” jawab Uruvelā Kassapa, “namun, yang ingin kukatakan kepadamu adalah, di rumah api ini, ada seekor Si Nāga (ular naga) yang sangat buas dan kuat, memiliki bisa yang sangat beracun dan berbahaya seketika. Aku tidak ingin Raja Si Nāga itu menyakitimu, bhikkhu.” Sang Buddha mengajukan permohonan untuk kedua kalinya, dan juga untuk ketiga kalinya, dan Uruvelā Kassapa memberikan jawaban yang sama. Ketika Sang Buddha mengajukan permohonan untuk keempat kalinya dengan berkata: “Wahai Kassapa, Raja Si Nāga itu tidak dapat menyakiti Aku, Sang Buddha. Aku hanya memintamu untuk mengijinkan aku tinggal di rumah api.” Akhirnya, Uruvelā Kassapa memberikan persetujuannya dengan berkata: “Tinggallah dengan senang hati, wahai bhikkhu, selama yang kauinginkan!”

Setelah ijin diberikan oleh Uruvelā Kassapa, Sang Buddha memasuki rumah api, menyebarkan tikar rumput kecilnya dan duduk bersila di atasnya, menegakkan tubuhnya dan mengarahkan pikirannya dengan tajam pada objek meditasi.

Ketika Si Nāga melihat Sang Buddha memasuki rumah api, ia sangat marah dan meniupkan asap terus-menerus ke arah Sang Buddha dengan maksud untuk memusnakannya dan mengubahnya menjadi abu.

Kemudian, Sang Buddha berpikir: “Bagaimana jika Aku mengalahkan kekuatan Si Nāga dengan kekuatan-Ku, tanpa melukai kulit atau kulit luarnya, daging atau uratnya, tulang atau sumsumnya!” dan kemudian Ia meniupkan asap yang jauh lebih dahsyat daripada asap Si Nāga dengan mengerahkan kekuatan ajaibnya, namun, tidak untuk menyakiti atau melukai bagian tubuhnya. Karena tidak dapat menahan amarahnya, Si Nāga mengeluarkan api yang berkobar lagi. Dengan mengembangkan pengkhusukan (jhāna)  elemen api (tejo-kasiṇa), Sang Buddha menghasilkan api yang lebih dahsyat. Seluruh rumah api tampak berkobar karena api yang sangat besar dari Sang Buddha dan Si Nāga.

Kemudian, para petapa, yang dipimpin oleh guru mereka Uruvelā Kassapa, berkumpul di sekitar rumah api dan dengan ketakutan, Uruvelā Kassapa berkata: “Teman-teman! Bhikkhu besar yang sangat tampan itu telah dicelakakan oleh Si Nāga!”

Ketika malam telah berlalu dan pagi tiba, Sang Buddha, setelah mengalahkan Si Nāga dengan kekuatannya tanpa menyentuh atau melukai bagian tubuhnya, menempatkannya di dalam mangkuk mangkuk derma-Nya dan menunjukkannya kepada Uruvelā Kassapa, sambil berkata: “Kassapa! Inikah Si Nāga yang kaukatakan? Aku telah mengalahkannya dengan kekuatanku.”

Langsung setelah itu, Uruvelā Kassapa berpikir: “Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa karena ia mampu mengalahkan Si Nāga yang buas dan kuat yang memiliki bisa yang sangat beracun dan berbahaya seketika. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya (āsava) telah dihancurkan.”

Karena sangat terkesan oleh pertunjukan pertama keajaiban (pāṭihāriya) ini dengan menjinakkan Si Nāga, Uruvelā Kassapa memberikan undangannya kepada Sang Buddha, sambil berkata: “Wahai bhikkhu besar, tinggallah saja di sini dan aku akan menawarkan persediaan makanan yang terus-menerus kepadamu.”

Keajaiban Kedua

Setelah itu, Sang Buddha tinggal di sebuah hutan di dekat petapaan Uruvelā Kassapa. Ketika jam jaga pertama malam (jam 18.00-22.00) telah berlalu dan tengah malam tiba, Empat Raja Besar dari empat penjuru (Cātu-mahā-rājika), dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuh mereka, pergi ke hadapan Sang Buddha, memberikan penghormatan kepada-Nya dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, dan berdiri pada jarak yang tepat seperti empat api unggun besar di empat penjuru.

Ketika malam telah berlalu dan pada hari fajar, pada keesokan paginya, Uruvelā Kassapa datang dan bertanya kepada Sang Buddha: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan. Wahai bhikkhu besar! Siapakah mereka, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, yang datang ke hadapanmu, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuh mereka setelah malam telah cukup maju hingga tengah malam, dan setelah memberikan penghormatan dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, berdiri seperti empat api unggun besar di empat penjuru?” Ketika Sang Buddha menjawab: “Mereka adalah Empat Raja Besar dari empat penjuru, wahai Kassapa! Mereka datang kepada-Ku untuk mendengarkan Dhamma.” Uruvelā Kassapa berpikir: “Bahkan Empat Raja Besar dari empat penjuru datang ke bhikkhu ini untuk mendengarkan Dhamma. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, Ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.

Keajaiban Ketiga

Pada malam berikutnya ketika jam jaga pertama malam telah berlalu dan tengah malam tiba, Sakka, Raja Para Dewa, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuhnya yang lebih menyenangkan dan bahkan lebih besar kecerahannya daripada cahaya Empat Raja Besar dari empat penjuru sebelumnya, datang ke hadapan Sang Buddha, memberikan penghormatan kepada-Nya dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, dan berdiri pada jarak yang tepat seperti api unggun besar.

Ketika malam telah berlalu, keesokan paginya, Uruvelā Kassapa pergi dan bertanya kepada Sang Buddha; “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan. Wahai bhikkhu besar! Siapakah dia, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, yang datang ke hadapanmu setelah malam telah cukup maju hingga tengah malam, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuhnya yang lebih menyenangkan dan bahkan lebih besar kecerahannya daripada cahaya Empat Raja Besar dari empat penjuru sebelumnya, dan yang, setelah memberikan penghormatan kepadamu dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, berdiri pada jarak yang tepat seperti api unggun besar?”

Ketika Sang Buddha menjawab: “Itu adalah Sakka, Raja Para Dewa, wahai Kassapa; ia datang kepada-Ku untuk mendengarkan Dhamma,” Uruvelā Kassapa berpikir: “Bahkan Sakka, Raja Para Dewa, harus datang ke bhikkhu ini untuk mendengarkan Dhamma. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.

Keajaiban Keempat

Lagi pada malam berikutnya, ketika jam jaga pertama malam telah berlalu dan tengah malam tiba, Brahma Sahampati, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuhnya, yang lebih menyenangkan dan bahkan lebih besar kecerahannya daripada cahaya Empat Raja Besar dan Raja Dewa Sakka, datang ke hadapan Sang Buddha, memberikan penghormatan kepada-Nya [409] dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, berdiri pada jarak yang tepat seperti api unggun besar.

Kemudian ketika malam telah berlalu, pada fajar, keesokan paginya, Uruvelā Kassapa pergi dan bertanya kepada Sang Buddha: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan. Wahai bhikkhu besar! Siapakah dia, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, yang datang ke hadapanmu setelah malam telah cukup maju hingga tengah malam, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuhnya yang lebih menyenangkan dan bahkan lebih besar kecerahannya daripada cahaya Empat Raja Besar dan Raja Dewa Sakka, dan yang, setelah memberikan penghormatan kepadamu dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, berdiri pada jarak yang tepat seperti api unggun besar.”

Ketika Sang Buddha menjawab: “Itu adalah Brahma Sahampati, Kassapa! Ia datang kepada-Ku untuk mendengarkan Dhamma,” Uruvelā Kassapa berpikir lagi demikian: “Bahkan Brahma Sahampati harus datang ke bhikkhu ini untuk mendengarkan Dhamma. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.

Keajaiban Kelima

Kebiasaan masyarakat negara Aṅga dan Magadha adalah untuk memberikan penghormatan kepada Uruvelā Kassapa dalam sebuah festival pemberian dana bulanan, yang diadakan dalam skala besar. Ketika Sang Buddha tinggal di hutan Uruvelā, hari untuk mengadakan festival itu mendekat. Pada malam sebelum festival, orang-orang sedang mengatur persiapan makanan dan hidangan dan akan pergi ke Uruvelā Kassapa keesokan paginya untuk memberikan penghormatan mereka. Pada saat itu, Uruvelā Kassapa berpikir: “Festival besar penghormatan kepadaku kini sedang berlangsung. Semua rakyat Aṅga dan Magadha akan datang ke petapaanku pada fajar, mereka membawa jumlah besar makanan, keras dan lunak. Ketika mereka tiba dan berkumpul, jika bhikkhu besar yang memiliki kekuatan batin besar menampilkan keajaiban di tengah-tengah orang-orang itu, mereka akan menunjukkan banyak ketaatan kepadanya. Maka, keuntungannya akan meningkat hari demi hari. Adapun aku, karena keyakinan mereka kepadaku akan berkurang, hadiah dan persembahan akan menurun hari demi hari. Akan baik jika bhikkhu besar itu dengan ramah menahan diri dari datang ke petapaanku untuk makanannya keesokan hari.”

Sang Buddha, setelah mengetahui pikiran Uruvelā Kassapa oleh kekuatan ajaibnya membaca pikiran orang lain (ceto-pariyāya-abhiññā), pergi ke benua bagian utara, Uttarakuru dan, setelah mengumpulkan makanan dana di sana, Ia memakannya di dekat Danau Anotatta di Himalaya dan menghabiskan hari di hutan cendana di tepi danau. Kemudian, pada hari berikutnya, bahkan sebelum fajar, ia kembali ke hutan Uruvelā dan tinggal di sana.

Menurut Mahāvaṁsa, pada saat itu Sang Buddha pergi ke Laṅkādīpa (Ceylon) sendirian pada sore hari mengetahui bahwa ini akan menjadi tempat saat Sāsana akan berkembang di masa depan dan, setelah para yakkha ditaklukkan dan dijinakkan, Ia memberikan segenggam rambutnya kepada Sumana Deva untuk disembah selamanya.

Keesokan harinya, ketika tiba waktunya untuk makan, Uruvelā Kassapa pergi ke hadapan Sang Buddha dan berkata kepada-Nya dengan sopan: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap, silakan datang dan makan. Wahai bhikkhu besar! Mengapa kau tidak datang kemarin? Kami bertanya-tanya mengapa kau tidak datang. Sebagian makanan telah disisihkan untukmu.”

Sang Buddha berkata: “Kassapa! Kemarin bukankah terpikir olehmu demikian: ‘Festival besar penghormatan kepadaku kini sedang berlangsung. Semua rakyat Aṅga dan Magadha akan datang ke petapaanku pada fajar, mereka membawa besar makanan, keras dan lunak. Ketika mereka tiba dan berkumpul, jika bhikkhu besar yang memiliki kekuatan batin besar menampilkan keajaiban di tengah-tengah orang-orang itu, mereka akan menunjukkan banyak ketaatan kepadanya. Maka, keuntungannya akan meningkat hari demi hari. Adapun aku, karena keyakinan mereka kepadaku akan berkurang, hadiah dan persembahan akan menurun hari demi hari. Akan baik jika bhikkhu besar itu dengan ramah menahan diri dari datang ke petapaanku untuk makanannya keesokan hari.’ Wahai Kassapa! Mengetahui pikiranmu melalui kekuatan membaca pikiran orang lain, kemarin pagi Aku pergi kemarin ke benua bagian utara, Uttarakuru dan, setelah mengumpulkan makanan dana di sana, Aku memakannya di dekat Danau Anotatta di Himalaya dan menghabiskan hari di hutan cendana di tepi danau.”

Sekali lagi Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu besar ini memang dapat membaca pikiranku. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.

Keajaiban Keenam

Suatu hari, ketika seorang budak perempuan pedagang dari Senānigama, bernama Puññā, meninggal dan mayatnya (utuja-rūpa) dibungkus di kain serat rami dan ditinggalkan di kuburan. Setelah dengan lembut membersihkan beban besar belatung, Sang Buddha mengambil kain serat rami itu untuk dikenakannya sebagai jubah yang terbuat dari kain kotoran yang diambil dari tumpukan sampah (paṁsukūla).

Pada saat itu, bumi besar berguncang hebat dengan suara gemuruh sebagai bentuk pujian. Seluruh langit juga bergemuruh dengan suara guntur dan semua deva dan Brahma bertepuk tangan dengan berseru: Bagus sekali!

Sang Buddha kembali ke tempat tinggalnya di hutan Uruvelā sambil berpikir: “Di mana Aku harus mencuci kain-kain ini?” Setelah menyadari apa yang sedang dipikirkan Sang Buddha, Raja Dewa Sakka menciptakan dengan kekuatan ajaibnya sebuah kolam empat sisi dengan hanya menyentuh bumi dengan tangannya dan berkata kepada-Nya: ” Sang Buddha yang Agung! Semoga Engkau mencuci kain-kain itu di kolam ini.”

Sang Buddha mencuci kain-kain itu di kolam yang diciptakan oleh Raja Dewa Sakka. Pada saat itu juga bumi berguncang, seluruh langit bergemuruh dan semua Deva dan Brahma bertepuk tangan dengan berseru: Bagus sekali!

Setelah Sang Buddha mencuci kain-kain itu, ia mempertimbangkan: “Di mana Aku harus mencelup kain-kain ini?”

Setelah menyadari apa yang ada dalam pikiran Sang Buddha, Raja Dewa Sakka berkata kepada-Nya demikian: “Sang Buddha yang Agung! Semoga Engkau mencelup kain ini di atas batu pualam ini,” dan ia menciptakan sebuah batu pualam besar dengan kekuatan ajaibnya dan meletakkannya di dekat kolam.

Setelah Sang Buddha mencelup kain itu di atas batu pualam yang diciptakan oleh Raja Dewa Sakka, Ia mempertimbangkan: “Di mana Aku harus menjemur kain ini?”

Kemudian, seorang dewa, yang tinggal di pohon salam (Kakudha) di dekat petapaan, menyadari apa yang ada dalam pikiran Sang Buddha, berkata kepada-Nya: “Sang Buddha yang Agung! Semoga engkau menjemur kain-kain ini di pohon salam ini,” dan ia menyebabkan dahan pohon itu membungkuk.

Setelah Sang Buddha menjemur kain itu di dahan pohon salam, ia mempertimbangkan: “Di mana Aku harus membentangkannya untuk meratakannya?” Raja Dewa Sakka, menyadari apa yang ada dalam pikiran Sang Buddha, berkata kepada-Nya: “Sang Buddha yang Agung! Semoga engkau membentangkan kain ini di atas batu pualam ini untuk meratakannya,” dan ia meletakkan sebuah batu pualam besar di sana.

Ketika pagi tiba, Uruvelā Kassapa mendekati Sang Buddha dan bertanya kepada-Nya: “

Ini  waktu makan, wahai bhikkhu besar. Makanan telah siap. Silakan datang dan makan. Bagaimana, bhikkhu besar? Kolam empat sisi ini tidak ada di sini sebelumnya. Namun, sekarang, di sini terdapat kolam ini! Kedua batu pualam besar ini tidak diletakkan oleh kami. Siapa yang telah meletakkannya? Lalu, pohon salam ini tidak pernah membungkuk sebelumnya, mengapa sekarang ia membungkuk?”

Setelah itu, Sang Buddha menceritakan semua yang telah terjadi dimulai dari pengambilan kain-kain itu. Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bahkan Sakka, penguasa Para Dewa, harus datang dan melakukan semua tugas-tugas kecil untuk bhikkhu ini. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.

Keajaiban Ketujuh

Ketika hari berikutnya tiba, Uruvelā Kassapa mendekati Sang Buddha dan mengundangnya, sambil berkata: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan!” Kemudian, Sang Buddha menyuruhnya pergi dengan berkata: “Kau pergi dulu, wahai Kassapa, Aku akan mengikuti.” Sang Buddha kemudian pergi ke pohon jambu di ujung Jambudīpa (salah satu di antara empat Mahādīpa, atau empat benua, yang termasuk di Cakkavāla dan diperintah oleh seorang Cakkavatti; lokasi empat benua itu di sekitar Gung Sineru atau Semuru) dan, dengan membawa sebutir buah jambu, kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.

Ketika melihat Sang Buddha, Uruvelā Kassapa,  yang datang setelahnya, namun, telah tiba di rumah api sebelumnya dan sedang duduk di sana, bertanya kepada Sang Buddha demikian: “Bhikkhu! Meskipun aku datang mendahuluimu dan engkau datang setelahku, engkau telah tiba di rumah api sebelumku dan sedang duduk di sini. Lewat jalan mana engkau datang, Bhikkhu?” Sang Buddha menjawab: “Kassapa, setelah Aku menyuruhmu pergi dulu, Aku pergi ke pohon jambu di ujung Jambudīpa dan, dengan membawa sebutir buah jambu, Aku kembali mendahuluimu dan duduk di rumah api. Wahai Kassapa, buah jambu ini, memiliki warna, bau, dan rasa yang baik. Makanlah jika kau menginginkannya.” Lalu, Uruvelā Kassapa menjawab: “Bhikkhu besar! Cukuplah! Engkaulah yang berhak atas buah itu. Engkaulah yang harus memakannya.”

Lagi, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Setelah menyuruhku pergi dulu, bhikkhu ini pergi ke pohon jambu di ujung Jambudīpa dan, dengan membawa sebutir buah jambu, kembali mendahuluiku dan duduk di rumah api. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya (āsava) telah dihancurkan.”

Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar seperti sebelumnya, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.

Keajaiban Kedelapan, Kesembilan, Kesepuluh, dan Kesebelas

Keesokan paginya, ketika Uruvelā Kassapa pergi ke hadapan Sang Buddha dan mengundangnya sambil berkata: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan!” Sang Buddha menyuruhnya pergi dengan berkata: “Kassapa! Pergi dulu. Aku akan mengikuti,” dan kemudian:

1. Setelah pergi ke pohon mangga yang berada di dekat pohon jambu, di ujung Jambudīpa dan dengan membawa sebutir buah mangga, Sang Buddha kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.

2. Setelah pergi ke pohon emblic myrobalan (amlaka) yang berada di dekat pohon jambu itu, di ujung Jambudīpa dan dengan membawa sebutir buah emblic myrobalan, Sang Buddha kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.

3. Pergi ke pohon mojokeling (haritaki) yang berada di dekat pohon jambu, di ujung Jambudīpa dan dengan membawa sebutir buah mojokeling, Sang Buddha kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.

4. Setelah pergi ke alam Dewa Tāvatiṁsa dan membawa bunga karang (parijata), Sang Buddha kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.

Ketika melihat Sang Buddha, yang telah mengikutinya, namun, telah tiba di rumah api sebelumnya dan sedang duduk di sana, Uruvelā Kassapa bertanya kepada Sang Buddha demikian: “Meskipun Aku datang mendahuluimu, bhikkhu, engkau yang datang setelahku telah tiba di rumah api sebelumku dan sedang duduk di sini. Lewat jalan mana engkau datang, bhikkhu?”

Sang Buddha menjawab: “Wahai Kassapa, etelah Aku menyuruhmu pergi dulu Aku pergi ke pohon mangga … pohon emblic myrobalan … pohon mojokeling … Tāvatiṁsa dan, membawa bunga karang , kembali mendahuluimu dan duduk di rumah api. Wahai Kassapa, bunga karang  ini memiliki warna dan aroma yang baik. Ambillah jika kau menginginkannya,” dan Uruvelā Kassapa menjawab: “Cukuplah! Wahai bhikkhu besar! Engkaulah yang berhak atas bunga karang  itu. Engkaulah yang harus mengambilnya.”

Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Setelah menyuruhku pergi dulu, bhikkhu ini pergi ke alam Dewa Tāvatiṁsa dan, dengan membawa bunga karang , kembali mendahuluiku dan duduk di rumah api. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Keajaiban Keduabelas

Pada suatu kesempatan, 500 petapa, karena ingin melakukan pemujaan api, berusaha membelah kayu-kayu bakar menjadi potongan-potongan, namun, tidak mampu melakukannya. Kemudian, mereka berpikir: “Ketidakmampuan kami membelah kayu bakar ini pasti disebabkan oleh kekuatan ajaib bhikkhu itu.”

Ketika Uruvelā Kassapa melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha, Sang Buddha bertanya: “Wahai Kassapa, apakah kau ingin agar kayu-kayu itu dibelah?” dan Uruvelā Kassapa menjawab: “Bhikkhu besar, kami ingin agar kayu-kayu itu dibelah.”

 Karena kekuatan ajaib Sang Buddha, 500 batang kayu bakar itu seketika terbelah menjadi potongan-potongan dengan menghasilkan suara retakan secara serentak.

Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu ini mampu membelah seketika kayu-kayu yang tidak dapat dilakukan oleh siswa-siswaku. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Keajaiban Ketigabelas

Pada kesempatan lain, 500 petapa tidak mampu menyalakan api untuk pelaksanaan pemujaan api meskipun mereka telah berusaha. Kemudian, mereka berpikir: “Ketidakmampuan kami menyalakan api ini pasti disebabkan oleh kekuatan ajaib bhikkhu itu.”

Ketika Uruvelā Kassapa melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha, Ia pun bertanya: “Kassapa, apakah engkau ingin agar api-api itu berkobar?” dan Uruvelā Kassapa menjawab: “Bhikkhu besar, kami ingin agar api-api itu berkobar!” Karena kekuatan ajaib Sang Buddha, 500 api unggun besar secara ajaib berkobar sekaligus.

Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu ini menyalakan 500 api unggun secara serentak, yang tidak dapat dilakukan oleh siswa-siswaku. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Keajaiban Keempatbelas

Lagi pada kesempatan lain, 500 petapa tidak mampu memadamkan api-api yang berkobar setelah pelaksanaan pemujaan api. Kemudian, mereka berpikir: “Ketidakmampuan kami memadamkan api-api yang berkobar ini pasti disebabkan oleh kekuatan ajaib bhikkhu itu.”

Ketika Uruvelā Kassapa melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha, ia bertanya: “Kassapa, apakah engkau ingin agar nyala-nyala api itu dipadamkan?” dan Uruvelā Kassapa menjawab: “Wahai bhikkhu besar, kami ingin agar nyala-nyala api itu dipadamkan.” Karena kekuatan ajaib Sang Buddha, 500 api unggun besar secara ajaib padam sekaligus.

Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu ini mampu memadamkan sekaligus 500 api unggun besar yang tidak dapat dipadamkan oleh siswa-siswaku. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Keajaiban Kelimabelas

Masih pada kesempatan lain, 500 petapa turun ke sungai Nerañjarā pada malam-malam musim dingin yang disebut delapan di antaranya (antaraṭṭhaka), yaitu ketika terjadi hujan salju yang sangat lebat dan ketika cuaca teramat dingin. Sebagian petapa dengan keliru percaya bahwa: “Dengan keluar dari air sekali, perbuatan jahat dapat dibersihkan,” naik ke tepi sungai setelah membenamkan seluruh tubuh mereka dan keluar dari air hanya sekali. Banyak di antara mereka memiliki keyakinan demikian. Mereka membenamkan diri hanya karena tidak mungkin keluar tanpa membenamkan diri. Sebagian petapa dengan keliru percaya bahwa: “Dengan membenamkan diri sekali, perbuatan jahat dapat dibersihkan,” terjun sekali dengan kepala mereka di bawah air dan naik ke tepi sungai segera setelah mereka muncul dari air, namun, hanya sedikit yang memiliki keyakinan demikian.

Sebagian petapa dengan keliru percaya bahwa: “Jika mandi dilakukan dengan berulang kali membenamkan dan keluar, perbuatan jahat dapat dibersihkan,” mandi di sungai, terus-menerus membenamkan dan keluar dari air. Banyak di antara mereka memegang keyakinan demikian.

Kemudian, Sang Buddha menciptakan 500 anglo (pemanas). Para petapa menghangatkan diri mereka di 500 anglo itu ketika mereka keluar dari air. Kemudian, 500 petapa itu berpikir: “Penciptaan 500 anglo ini pasti disebabkan oleh kekuatan ajaib bhikkhu itu.”

Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu besar ini memang dapat menciptakan anglo-anglo ini yang berjumlah 500. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Keajaiban Keenambelas

Suatu hari, terjadi hujan lebat yang tidak pada musimnya di hutan Uruvelā, tempat Sang Buddha tinggal; aliran air deras mengalir tanpa henti. Tempat tinggal Sang Buddha berada di dataran rendah dan, karenanya, rawan tergenang. Kemudian, terpikir oleh Sang Buddha demikian: “Akan baik jika Aku menahan aliran air di sekeliling dan berjalan mondar-mandir di atas tanah gundul yang dikelilingi oleh air dan tertutup tebal oleh debu.” Karena itu, ia menahan aliran air di sekelilingnya dan berjalan mondar-mandir di atas tanah gundul yang dikelilingi oleh air dan tertutup tebal oleh debu.

Pada saat itu, Uruvelā Kassapa, karena berpikir: “Jangan sampai bhikkhu itu terkena arus deras dan terseret,” pergi mendayung perahu bersama banyak petapa ke tempat tinggal Sang Buddha. Sangat terkejutlah ia, ketika melihat bahwa aliran air di sekeliling telah ditahan dan bahwa Sang Buddha sedang berjalan mondar-mandir di atas tanah gundul yang dikelilingi oleh air dan tertutup tebal oleh debu. Karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia bertanya: “Bhikkhu besar! Bukankah memang engkau yang sedang berjalan mondar-mandir di atas tanah gundul yang dikelilingi oleh air dan tertutup tebal oleh debu?” Sang Buddha menjawab: “Ya, Kassapa, memang Aku,” dan ia naik ke langit bahkan ketika para petapa sedang memperhatikan dan turun beristirahat di perahu mereka.

Sekali lagi, Uruvelā Kassapa berpikir: “Bahkan aliran deras yang mengalir dengan kekuatan besar tidak dapat menyeret bhikkhu itu. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Uruvelā Kassapa dan siswa-siswanya menjadi bhikkhu

Pada zaman dahulu, karena indria-indria para petapa masih belum matang, Sang Buddha telah dengan sabar menanggung penghinaan mereka dan menunggu waktu ketika indria-indria mereka akan mencapai kematangan. Hampir tiga bulan telah berlalu sejak saat itu. Kini karena indria-indria mereka telah matang, Sang Buddha akan berbicara kepada mereka dengan terus-terang dan mengajar mereka dengan suatu yang membebasan mereka.

Meskipun Sang Buddha telah menunjukkan keajaiban tidak terhanyutkan oleh banjir, petapa besar itu salah berpikir seperti sebelumnya bahwa hanya dirinyalah yang merupakan Arahat tanpa kekotoran batin dan bahwa Sang Buddha belum menjadi Arahat yang kekotoran batinnya telah dihancurkan sepenuhnya.

Sementara ia sedang berpikir demikian, terpikir oleh Sang Buddha demikian: “Jika Aku terus mengabaikannya, orang yang sia-sia ini, Uruvelā Kassapa, yang terlalu jauh dari jalan-jalan (magga) dan buah-buah (phala), akan terus salah berpikir untuk waktu yang lama: ‘Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa! Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.’ Bagaimana jika Aku menanamkan dalam dirinya rasa mendesak kebatinan?”

Setelah berpikir demikian, Sang Buddha dengan terus-terang berkata kepada Uruvelā Kassapa tiga rangkaian kata ini: “Kassapa, 1) engkau bukanlah Arahat yang kekotoran batinnya telah dihancurkan; 2) engkau bukanlah seseorang yang telah mencapai jalan Arahat; dan 3) tidak perlu berbicara tentang pencapaian demikian, bahkan engkau tidak memiliki latihan jalan benar yang paling sedikit pun untuk pencapaian magga dan phala Arahat.”

Setelah itu, Uruvelā Kassapa, merasakan rasa mendesak kebatinan yang kuat, bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Buddha dan mengajukan permohonan: “Sang Buddha yang Agung, semoga aku menerima pabbajja (penanggalan keduniawian) sehingga masuk ke dalam Sangha dan penahbisan tinggi sebagai bhikkhu di hadapanmu.”

Setelah mengetahui kematangan indria-indria mereka, Sang Bhagava (salah satu sebutan Sang Buddha) berkata kepadanya: “Kassapa, engkau adalah pemimpin, kepala, dan yang utama dari 500 petapa, tidak akan pantas jika engkau tidak memberitahu mereka. Engkau harus terlebih dahulu minta ijin mereka dan, kemudian, 500 siswamu ini boleh melakukan apa pun yang mereka anggap tepat.”

Maka, Uruvelā Kassapa menemui 500 siswanya dan memberitahu mereka: “Wahai para petapa, aku ingin menjalani kehidupan suci di bawah bhikkhu besar itu. Kalian boleh melakukan apa pun yang kalian anggap tepat.” — “Guru besar, kami telah lama memiliki keyakinan kepada bhikkhu besar itu, sejak penjinakan Si Nāga,” jawab para petapa itu. “Jika engkau menjalani kehidupan suci di bawahnya, kami semua 500 siswa akan melakukan hal yang sama.”

Kemudian, Uruvelā Kassapa dan 500 petapa itu memotong rambut mereka, jambul rambut mereka yang kusut, mengambil kelengkapan mereka dan perabotan pengorbanan api seperti pikulan bahu dan pengaduk api, dan melepaskannya melayang di arus sungai Nerañjarā. Kemudian, mereka pergi ke hadapan Sang Buddha dan bersujud dengan kepala mereka di kaki Sang Buddha serta mengajukan permohonan: “Sang Buddha yang Agung, semoga kami menerima pabbajja dan penahbisan tinggi sebagai bhikkhu di hadapanmu.”

Setelah itu, Sang Bhagava berkata: Etha bhikkhave (Mari, para bhikkhu), dan seterusnya, yang berarti: “Mari, para bhikkhu. Terimalah pabbajja dan penahbisan tinggi yang telah kalian minta. Dhamma telah diajarkan dengan baik oleh-Ku. Berusahalah untuk menjalani latihan mulia dalam tiga aspek tingginya sehingga dapat mengakhiri putaran penderitaan.”

Seketika, ketika: Etha bhikkhave … diucapkan oleh Sang Buddha, yang mengulurkan tangan kanan keemasan-Nya, Uruvelā Kassapa dan 500 petapanya berubah menjadi bhikkhu sepenuhnya, seperti bhikkhu senior yang telah menjalani kehidupan kebhikkhuan selama 60 tahun, langsung berpakaian lengkap dan dilengkapi dengan delapan kelengkapan yang diciptakan secara ajaib, masing-masing pada tempatnya yang semestinya, sambil memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan rasa hormat yang layak. Tanda-tanda kepetapaan mereka lenyap secara ajaib dan mereka berubah menjadi bhikkhu.

Ucapan Sang Buddha yang ini saja: “Mari, para bhikkhu …” berarti para petapa itu menjadi bhikkhu yang sempurna. Tidak perlu ditahbiskan dengan prosedur di sebuah balai penahbisan.

??Nadī Kassapa dan Siswa-siswanya Menjadi Bhikkhu

Ketika Nadī Kassapa, yang tinggal di hilir, melihat kelengkapan para petapa yang dilepaskan melayang oleh Uruvelā Kassapa dan 500 siswanya, ia berpikir: “Aku berharap tidak ada bahaya yang menimpa kakakku.” Ia mengirimkan terlebih dahulu satu atau dua siswanya, sambil berkata: “Pergi dan cari tahu tentang kakakku,” dan ia sendiri pergi bersama 300 siswanya yang lain ke tempat tinggal Uruvelā Kassapa. Mendekati kakak tertuanya, ia bertanya: “Saudara Kassapa, apakah keadaan sebagai bhikkhu ini mulia dan terpuji?”

Setelah dijawab oleh Uruvelā Kassapa: “Memang, saudara, keadaan sebagai bhikkhu ini mulia dan terpuji,” Nadī Kassapa dan 300 siswanya, seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Uruvelā Kassapa dan para pengikutnya, mengambil kelengkapan petapaan mereka dan perabotan pengorbanan api, dan melepaskannya melayang di arus sungai Nerañjarā. Kemudian mereka pergi ke hadapan Sang Buddha dan bersujud dengan kepala mereka di kaki Sang Buddha, serta mengajukan permohonan: “Sang Buddha yang Agung, semoga kami menerima pabbajja dan penahbisan tinggi sebagai bhikkhu di hadapanmu.”

Setelah itu, Sang Buddha berkata: Etha bhikkhave, dan seterusnya, yang berarti: “Mari, para bhikkhu. Terimalah pabbajja dan penahbisan tinggi yang telah kalian minta. Dhamma telah diajarkan dengan baik olehku. Berusahalah untuk menjalani latihan mulia dalam tiga aspek tingginya sehingga dapat mengakhiri putaran penderitaan.” Seketika, ketika: Etha bhikkhave … diucapkan oleh Sang Buddha, yang mengulurkan tangan kanan keemasannya, Nadī Kassapa dan 300 petapanya berubah menjadi bhikkhu yang sepenuhnya mapan, seperti bhikkhu senior yang telah menjalani kehidupan berkelana selama 60 tahun, siap berpakaian dan dilengkapi dengan delapan kelengkapan yang diciptakan secara ajaib, masing-masing pada tempatnya yang semestinya, sambil memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan rasa hormat yang layak. Tanda-tanda kepetapaan mereka lenyap secara ajaib ketika mereka berubah menjadi bhikkhu.

Gayā Kassapa dan Siswa-siswanya Menjadi Bhikkhu

Ketika Gayā Kassapa, yang tinggal di hilir, melihat kelengkapan para petapa yang dilepaskan melayang oleh Uruvelā Kassapa dan 500 siswanya gan kelengkapan yang dilepaskan melayang oleh Nadī Kassapa dan 300 siswanya, berpikir: “Aku berharap tidak ada bahaya yang menimpa kakak-kakakku, Uruvelā Kassapa dan Nadī Kassapa.” Ia mengirimkan terlebih dahulu dua atau tiga siswanya, dengan berkata: “Pergi dan cari tahu tentang kedua kakakku,” dan ia sendiri pergi bersama 200 siswanya ke tempat tinggal Uruvelā Kassapa. Setelah mendekati kakak tertuanya, ia bertanya: “Kakak Kassapa, apakah keadaan sebagai bhikkhu ini mulia dan terpuji?”

Setelah Uruvelā Kassapa menjawab: “Adik, tentu saja keadaan sebagai bhikkhu ini mulia dan terpuji,” Gayā Kassapa dan 200 siswanya, seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Uruvelā Kassapa dan para pengikutnya, mengambil kelengkapan petapaan mereka dan perabotan pengorbanan api, dan melepaskannya melayang di arus sungai Nerañjarā.

Kemudian, mereka pergi ke hadapan Sang Buddha dan bersujud dengan kepala mereka di kaki Sang Buddha, serta mengajukan permohonan: “Sang Buddha yang Agung, semoga kami menerima pabbajja ke dalam Sangha dan penahbisan tinggi sebagai bhikkhu di hadapanmu.”

Langsung setelah itu, Sang Buddha berkata: Etha bhikkhave … dan seterusnya, yang berarti: “Mari, para bhikkhu. Terimalah pabbajja dan penahbisan tinggi yang telah kalian minta. Dhamma telah diajarkan dengan baik olehku. Berusahalah untuk menjalani latihan mulia dalam tiga aspek tingginya, sehingga dapat mengakhiri putaran penderitaan.”

Seketika, ketika: Etha bhikkhave … diucapkan oleh Sang Buddha, yang mengulurkan tangan kanan keemasannya, Gayā Kassapa dan 200 petapanya berubah menjadi bhikkhu sepnuhnya, seperti bhikkhu senior yang telah menjalani kehidupan bhikkhu selama 60 tahun, siap berpakaian dan dilengkapi dengan delapan kelengkapan yang diciptakan secara ajaib, masing-masing pada tempatnya yang semestinya, sambil memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan rasa hormat yang layak. Tanda-tanda bahwa mereka petapa lenyap secara ajaib ketika mereka berubah menjadi bhikkhu.

Di  kisah penampilan keajaiban ini, peristiwa-peristiwa yang tidak biasa seperti ketidakmampuan para petapa itu membelah kayu bakar, pembelahan kayu bakar yang serentak dan ajaib; ketidakmampuan mereka menyalakan api, nyala api yang serentak dan ajaib; ketidakmampuan mereka memadamkan api, pemadaman api yang serentak dan ajaib; penciptaan 500 anglo; semua peristiwa itu karena tekad Sang Buddha. Jumlah keajaiban, yang dipersembahkan oleh Sang Buddha dengan cara demikian untuk membebaskan para Kassapa bersaudara dan 1.000 petapa mereka, yang disebutkan secara langsung dalam Kitab Himpunan Pāḷi adalah enam belas dan yang tidak disebutkan secara langsung adalah 3.500 sehingga totalnya 3.516.

Diterjemahkan oleh PMd Tjan Sie Tek, Penerjemah Tersumpah, dari Mahāvamsa.

Menteri Santati baru pulang berperang dan menjadi Arahat setelah satu stanza oleh Sang Buddha

0

Keterangan: Santati, menteri Raja Pasenadi (Dhammapada-aṭṭhakathā 142)

Ringkasan cerita:

  1. Sewaktu bertemu Menteri Santati yang memberikan salam penghormatan kepada-Nya, Sang Buddha, yang disertai para bhikkhu dan sejumlah orang, berkata bahwa menteri itu akan datang kepada-Nya, lalu Sang Buddha mengucapkan sebuah stansa sebanyak empat baris, menteri itu pun langsung menjadi Arahat. Kemudian, terbang secara berurutan, yaitu terbang setinggi pohon kelapa, lalu turun dan menghormat kepada Sang Buddha, sampai setinggi tujuh pohon kelapa, bercerita di hadapan para bhikkhu dan orang itu tentang suatu kehidupan masa lalunya.
  2. Langsung setelah itu, menteri itu bermeditasi jhāna dengan objek api dan, lalu, api menyembur dari tubuhnya dan menelan daging dan darahnya, lalu timbul relik-relik yang indah.
  3. Cerita itu didengar oleh sejumlah orang yang berpandangan salah  dan mereka berkata bahwa Sang Buddha berbohong. Namun, orang yang yang berpandangan benar berkata bahwa hari itu mereka akan mendapatkan kehormatan istimewa untuk menyaksikan karunia Sang Buddha dan karunia Menteri Santati.”
  4. Apa yang telah Sang Buddha katakan terjadi semuanya, persis seperti cerita di atas.

Ajaran keagamaan ini diberikan oleh Sang Guru ketika beliau berdiam di Jetavana berkenaan dengan Santati, menteri Raja Pasenadi.

Suatu ketika, Menteri Santati kembali dari menumpas kerusuhan di perbatasan kerajaan Kosala milik Raja Pasenadi. Sang raja begitu puas sehingga menyerahkan kerajaannya kepadanya selama tujuh hari dan memberinya seorang wanita penari dan penyanyi. Selama tujuh hari Menteri Santati menenggelamkan diri dalam minuman keras, dan pada hari ketujuh, berhias dengan serba mewah, ia menaiki punggung gajah kerajaan dan berangkat menuju tempat pemandian. Ketika ia melewati gerbang, ia melihat Sang Guru memasuki kota untuk menerima dana. Dengan tetap duduk di punggung gajah, ia menganggukkan kepalanya sebagai  salam penghormatan kepada Sang Guru dan melanjutkan perjalanan. Sang Guru tersenyum.

“Mengapa Guru tersenyum?” tanya YM Ānanda. Sang Guru menjelaskan alasan senyumnya, “Ānanda, perhatikanlah Menteri Santati! Hari ini juga, meskipun berhias dengan segala kemewahan, ia akan datang ke hadapan-Ku, dan di akhir sebuah stanza yang terdiri dari empat baris, ia akan mencapai tingkat Arahat. Kemudian, ia akan duduk bersila pada ketinggian tujuh pohon kelapa di atas bumi, dan saat itu juga akan memasuki Nibbāna.”

Rakyat banyak mendengar percakapan antara Sang Guru dan YM Ānanda. Mereka yang berpandangan salah berpikir, “Lihatlah cara bertindak petapa Gotama! Apa pun yang terlintas di pikirannya akan diucapkannya! Hari ini, katanya, orang mabuk itu, meski berhias serba mewah, akan datang ke hadapannya, mendengarkan Dhamma, dan memasuki Nibbāna! Namun, justru itulah yang tidak akan terjadi; hari ini kita akan mendapatinya berbohong.” Sebaliknya, mereka yang berpandangan Dhamma berpikir, “Oh, betapa agung dan menakjubkannya kekuatan gaib para Buddha! Hari ini kita akan mendapatkan kehormatan istimewa untuk menyaksikan karunia Sang Buddha dan karunia Menteri Santati.”

Menteri Santati menghabiskan sebagian hari di tempat pemandian, bermain-main di air, lalu memasuki taman kesenangannya dan duduk di aula minumnya. Seketika itu juga wanita itu turun ke tengah panggung dan mulai menampilkan keahliannya dalam menari dan menyanyi. Ia telah berpuasa selama tujuh hari agar tubuhnya tampak lebih anggun; akibatnya, pada hari itu, ketika ia sedang menampilkan keahliannya, rasa sakit seperti teriris pisau muncul di perutnya dan seolah mengoyak daging jantungnya. Saat itu juga, dengan mulut terbuka dan mata terbelalak, ia meninggal.

Menteri Santati berkata, “Periksa wanita itu!” “Ia sudah mati, Tuan,” jawab mereka. Begitu Menteri Santati mendengar kata-kata itu, ia diliputi kesedihan yang dahsyat dan, dalam sekejap, minuman keras yang telah ia minum selama seminggu sebelumnya lenyap seperti setetes air pada pecahan barang dari tanah yang membara. Ia berkata dalam hati, “Dengan satu-satunya kekecualian Sang Guru, siapakah yang mampu memadamkan kesedihan saya ini?”

Maka, pada malam hari, sambil dikelilingi oleh pasukannya, ia pergi menemui Sang Guru; dan, setelah memberi hormat, ia berkata, “Guru, kesedihan demikian telah menimpa saya. Saya datang kepada Guru karena saya tahu bahwa Guru akan mampu memadamkan kesedihan saya. Jadilah perlindungan saya.” Lalu, Sang Guru berkata kepadanya, “Engkau sungguh telah datang ke hadapan seseorang yang mampu memadamkan kesedihanmu. Pada berbagai kesempatan yang tak terhitung ketika wanita ini telah meninggal dengan cara yang persis sama dan engkau menangisinya, engkau telah menitikkan air mata yang lebih berlimpah daripada semua air yang terkandung di Empat Samudra Besar.” Begitu berkata demikian, Sang Guru mengucapkan stanza yang berikut ini:

Apa yang telah lampau, biarlah hal itu terlihat sebagai yang terbaik. Di hadapanmu, tidak ada apa-apa. Jika kamu tidak menggenggam apa yang berada di antara keduanya, kamu akan berjalan dengan damai.

Di akhir stanza itu, Menteri Santati mencapai tingkat Arahat beserta dengan Salābhiññā (Enam Kesaktian). Langsung setelah itu, ia memeriksa keseluruhan kehidupannya sendiri dan, begitu menyadari bahwa ia hanya memiliki waktu yang singkat untuk hidup, berkata kepada Sang Guru, “Guru, ijinkanlah saya memasuki Nibbāna.” Meskipun Sang Guru sendiri mengetahui apa perbuatan berjasa yang telah dilakukan oleh Menteri Santati dalam suatu kehidupan lampau, beliau berpikir, “Orang dengan pandangan salah, yang telah berkumpul untuk mendapati-Ku berbohong, tidak akan berhasil, dan orang dengan pandangan benar yang telah berkumpul dengan pikiran, “Kita akan menyaksikan karunia Buddha dan karunia Menteri Santati,’ ketika mereka mendengar tentang perbuatan berjasa, yang ia lakukan dalam suatu kehidupan lampau,” akan bertambah penghargaan mereka terhadap karya-karya berjasa.”

Karena itu, Sang Guru berkata kepada Menteri Santati, “Baiklah, ceritakan kembali kepada kami semua perbuatan berjasa yang engkau lakukan dalam suatu kehidupan lampau. Namun, jangan ceritakan kembali sambil berdiri di tanah melainkan ceritakan kembali sambil melayang di udara pada ketinggian tujuh pohon kelapa di atas tanah.” “Baiklah,” jawab Menteri Santati. Maka, setelah memberi hormat kepada Sang Guru, ia terbang setinggi satu pohon kelapa lalu turun ke tanah. Kemudian, ia memberi hormat kepada Sang Guru sekali lagi, dan naik secara bertahap hingga ketinggian tujuh pohon kelapa di atas tanah, lalu duduk bersila di udara, dan berkata, “Para Bhante, dengarkanlah perbuatan berjasa yang  saya lakukan dalam suatu kehidupan lampau.” Begitu berkata demikian, ia menceritakan yang berikut ini:

Sembilan puluh satu kappa yang lalu, dalam masa Buddha Vipassī, saya terlahir kembali dalam sebuah keluarga di kota bernama Bandhumati. Lalu, pikiran yang berikut ini muncul dalam benak saya, “Pekerjaan apa yang akan menghilangkan kekurangan dan penderitaan orang lain?” Ketika saya merenungkan pikiran itu, saya memperhatikan jerih payah mereka yang berkeliling memberitakan Dhamma, dan sejak saat itu saya mengerjakan tugas itu sendiri. Saya mendorong orang lain untuk melakukan karya-karya berjasa, dan saya sendiri melakukan karya-karya berjasa. Pada hari puasa, saya menjalankan kewajiban hari puasa, saya memberi dana, dan saya mendengarkan Dhamma. Lalu, saya berkeliling memberitakan, “Tidak ada permata yang sebanding dengan Tiga Permata yang bernama Buddha, Dhamma, dan Sangha; karena itu, hormatilah Tiga Permata.”

Pada saat itu Raja Agung Bandhumati, ayah Sang Buddha, mendengar suara saya, memanggil saya, dan bertanya, “Sahabat, untuk urusan apa engkau berkeliling?” Saya menjawab, “Baginda, saya berkeliling memberitakan kebajikan Tiga Permata, dan mendorong rakyat untuk melakukan karya-karya jasa.” “Kendaraan apa yang engkau gunakan dalam perjalananmu?” tanya sang raja. Saya menjawab, “Saya berkeliling dengan kedua kaki saya, Baginda.” Lalu, sang raja berkata, “Sahabat, tidak pantas engkau berkeliling dengan cara demikian. Hiasilah dirimu dengan untaian bunga ini dan duduklah di punggung kuda, lalu berkelilinglah dengan cara demikian.” Begitu berkata demikian, sang raja memberi saya seuntai bunga yang tampak serupa dengan seuntai mutiara, dan sekaligus memberi saya seekor kuda.

Setelah sang raja berbuat baik kepada saya, saya berkeliling seperti sebelumnya memberitakan Dhamma. Kemudian, sang raja memanggil saya lagi dan bertanya, “Sahabat, untuk urusan apa engkau berkeliling?” “Sama seperti sebelumnya, Baginda,” jawab saya. “Sahabat,” kata sang raja, “seekor kuda tidak cukup baik untukmu; duduklah di sini sambil engkau berkeliling.” Begitu berkata demikian, sang raja memberi saya sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda Sindh. Sekali lagi, untuk ketiga kalinya sang raja mendengar suara saya, lalu memanggil saya dan bertanya, “Sahabat, untuk urusan apa engkau berkeliling?” “Sama seperti sebelumnya, Baginda,” jawab saya. “Sahabat,” kata sang raja, “sebuah kereta tidak cukup baik untukmu.” Segera ia memberi saya kekayaan besar dan satu set permata yang indah, dan sekaligus memberi saya seekor gajah. Maka, aku menghiasi diri saya dengan semua permata saya dan duduk di punggung gajah dan, dengan cara demikian, selama delapan puluh ribu tahun saya berkeliling melakukan pekerjaan jasa memberitakan Dhamma. Selama sepanjang waktu itu, dari tubuh saya tercium harum cendana dan dari mulut saya tercium harum teratai. Itulah perbuatan berjasa saya dalam suatu kehidupan lampau.

(Akhir Kisah Masa Lampau.)

Sambil Menteri Santati menceritakan kisah perbuatan berjasanya dalam suatu kehidupan lampau, dengan duduk bersila di udara, menerapkan diri pada meditasi atas elemen api; begitu membangkitkan keadaan jhāna, ia memasukinya dan langsung memasuki Nibbāna.

Seketika nyala api menyembur dari tubuhnya dan menelan daging serta darahnya, dan relik-reliknya melayang turun seperti bunga-bunga melati. Sang Guru membentangkan sehelai kain putih yang murni dan relik-reliknya jatuh ke dalamnya. Lalu, Sang Guru menempatkannya di sebuah persimpangan jalan empat arah, menyuruh sebuah stūpa didirikan di atas persimpangan itu, dan berkata, “Dengan memberi penghormatan kepada relik-relik itu, rakyat banyak akan memperoleh banyak jasa.”

Para bhikkhu memulai pembahasan di Aula Kebenaran, “Menteri Santati mencapai tingkat Arahat di akhir stanza itu dan, meskipun berhias dan berpakaian megah, sambil duduk bersila di udara, memasuki Nibbāna. Pantaskah ia disebut ‘petapa’ atau ‘brahmana’?”

Pada saat itu Sang Guru masuk dan bertanya kepada para bhikkhu, “Para bhikkhu, apakah yang menarik perhatian kalian ketika kalian duduk berkumpul di sini?” Ketika mereka memberitahunya, beliau berkata, “Para bhikkhu, pantas menyebut putraku sebagai ‘petapa,’ dan sama pantasnya menyebutnya sebagai ‘brahmana’.” Begitu berkata demikian, beliau mengucapkan Dhamma dengan mengucapkan stanza yang berikut ini:

142. Walaupun seseorang berdandan, namun, bila orang itu damai, terkendali, yakin,* dan hidup bajik setelah menanggalkan hukuman terhadap semua makhluk, ia adalah brahmana,** ia petapa,*** ia bhikkhu.****

*niyato: yakin tentang empat Jalan Kesucian (Empat Magga)

**karena ia telah mencampakkan kejahatan

***karena ia telah mengendalikan kejahatan ****bhikkhu karena ia telah memusnakan nafus rendah (Narada & Pereira, 1940:38

Diterjemahkan oleh PMd Tjan Sie Tek, Penerjemah Tersumpah sejak 1997, dari Buddhist Legends (Dhammapada-aṭṭhakathā) oleh Eugene Watson Burlingame

Pikiran adalah obat

0

Penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa pikiran – bersama dengan obat-obatan nonfarmakologis lainnya – bisa menjadi obat yang ampuh untuk meredakan banyak jenis nyeri kronis atau berulang, terutama nyeri punggung bawah.

  1. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. James Campbell, seorang ahli bedah saraf dan spesialis nyeri, “Pengobatan terbaik untuk nyeri ada tepat di depan mata kita.” Ia menyarankan untuk tidak “membesar-besarkan keadaan” – yang berarti tidak beranggapan bahwa nyeri tersebut mewakili sesuatu yang bersifat bencana yang menghalangi Anda menjalani kehidupan yang telah Anda pilih.
  2. Cerita seorang wanita AS yang sering sakit kepala yang hebat: Bertahun-tahun yang lalu saya sering didera sakit kepala yang melumpuhkan yang terkait dengan sejumlah kegiatan yang tampaknya tidak berhubungan, yang mencakup masak untuk para tamu dan menjahit tirai untuk rumah.
  3. Saya mengira saya mungkin alergi terhadap gas alam atau kain-kain tertentu sampai suatu hari saya menjadikan tegang otot-otot wajah saya ketika saya berkonsentrasi penuh pada suatu proyek.
  4. Penyembuhannya oleh pikiran sendiri secara mengejutkan sederhana:

a.Saya menyadari bagaimana tubuh saya bereaksi dan, kemudian, mengubahnya melalui perubahan sedikit perilaku yang dipicu oleh diri sendiri.

b.Saya dengan sadar menyantaikan otot-otot saya setiap kali saya fokus pada tugas yang bisa memicu sakit kepala akibat ketegangan.

5. Sesudah sekitar 50 tahun:

a.Kini punggung sayalah yang sakit ketika saya masak dengan tergesa-gesa bahkan untuk makanan sederhana.

b. Untuk kali kedua, setelah berbulan-bulan kesakitan, saya menyadari bahwa saya sedang memindahkan tekanan ke otot-otot punggung saya dan harus belajar menyantaikannya serta memberi lebih banyak waktu untuk menyelesaikan suatu proyek guna mengurangi tekanan.

c.Dengan senang hati saya laporkan, baru-baru ini saya menyiapkan makan malam untuk delapan orang tanpa sedikit pun rasa sakit.

6.Saya tidak bermaksud menyarankan bahwa setiap rasa sakit dan nyeri yang menakutkan bisa disembuhkan dengan kesadaran diri dan perubahan perilaku.

7.Cerita tentang diri penulis:

a.Saya berusia 60-an tahun dan dahulu sering sekali susah tidur.

b. Saya dapati bahwa ada dua tahap untuk tidur: Kesatu, saya masuk ranjang sekitar jam 10 malam dan saya sulit tidur; lalu, saya sadar bahwa otot-otot wajah saya tegang, dan kedua, saya menyantaikan otot-otot itu dan perlahan langsung tertidur.

8.Jadi, pikiran kita adalah obat.

Semoga bermanfaat.

Buddhisme dan sīla: menuju kehidupan  diri sendiri yang bermakna

  1. Beda antara dua istilah: diri dan diri sendiri (pribadi)

Diri adalah pribadi dan diri sendiri adalah penekanan atau pembedaan diri dari orang lain.

Contoh:

diri

  • Jagalah diri dari perbuatan buruk.
  • Ia mengenal diri dengan baik.
  • Mengendalikan diri adalah kebijaksanaan.

diri sendiri

Perkataan diri sendiri digunakan untuk memberikan penekanan atau untuk membedakan dari orang lain. Kata sendiri berfungsi sebagai penegas.

Contoh:

  • Ia menyalahkan diri sendiri, bukan orang lain.
  • Kita harus percaya pada diri sendiri.
  • Jangan tipu diri sendiri.
  • 2.Sīla salah satu pilar pembentukan karakter dan pemerkuatan batin diri sendiri

Sīla  (kebajikan diri sendiri, doktrin atau sistem perilaku bajik diri sendiri; sesuai dengan cita-cita perilaku kemanusiaan perseorangan) merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Berbagai penelitian dalam bidang psikologi, sosiologi, dan filsafat menunjukkan bahwa masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai sīla  cenderung memiliki tingkat kepercayaan sosial yang lebih tinggi, hubungan antarmanusia yang lebih harmonis, dan sifat hidup yang lebih baik. Jauh sebelum berbagai kajian tersebut berkembang, sekitar abad ke-6 SM, Buddhisme telah menempatkan sīla  sebagai salah satu pilar utama dalam pembentukan karakter dan pemerkuatan batin.

Dalam ajaran Buddha, sīla bukanlah sekadar kumpulan peraturan yang harus dipatuhi karena adanya penguasa tertentu. Sīla dipahami sebagai latihan sadar yang bertujuan mengurangi penderitaan (dukkha) dengan mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan diri. Karena itu, sīla menjadi dasar bagi berkembangnya konsentrasi (samādhi) dan kebijaksanaan (paññā), sebagaimana yang dirumuskan dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga). Tanpa sīla, batin sulit mencapai ketenangan yang diperlukan untuk memperoleh pandangan terang terhadap hakikat kehidupan.

Pentingnya sīla ditegaskan oleh Sang Buddha dalam Cūḷasīhanāda Sutta (Majjhima Nikāya 11) ketika beliau menjelaskan bahwa kehidupan suci tidak dijalankan semata-mata demi memperoleh keuntungan materi, penghormatan, atau reputasi, bahkan tidak pula berhenti pada pencapaian sīla itu sendiri. Sīla merupakan dasar yang kokoh bagi pemerkuatan konsentrasi pikiran, pengetahuan, dan akhirnya pembebasan dari penderitaan. Dengan demikian, sīla memiliki fungsi instrumental (alat) sekaligus transformatif (bersifat mengubah) dalam keseluruhan praktik Buddhis.

3.Fungsi sīla

Dalam kehidupan sehari-hari, sīla diwujudkan melalui pelaksanaan Lima Sila (Pañca-sīla), yaitu menghindari pembunuhan, pencurian, perilaku seksual yang salah, ucapan tidak benar, serta penggunaan minuman atau zat yang menyebabkan lemahnya kesadaran. Kelima latihan sīla tersebut bukanlah larangan yang bersifat dogmatis, melainkan pedoman praktis untuk melindungi diri sendiri dan makhluk lain dari akibat buruk yang ditimbulkan oleh tindakan yang tidak bersīla. Dengan menaati sila, seseorang tidak hanya mengurangi konflik sosial, tetapi juga membangun ketenangan batin karena terbebas dari penyesalan.

Jadi, seseorang yang sedang menerapkan sila Buddhis itu berarti dia sedang mengubah (transform) diri dari seseorang yang tidak melakukan sila atau tahu sila itu berubah menjadi pelaku sila.

4.Hubungan antara sīla dan hukum karma

Hubungan antara sīla dan hukum karma menjadi salah satu ciri khas etika Buddhis. Dalam Nibbedhika Sutta (Aṅguttara Nikāya 6.63), Sang Buddha menjelaskan bahwa kehendak (cetanā) merupakan inti dari karma: “Cetanāhaṃ, bhikkhave, kammaṃ vadāmi”—”Para bhikkhu, kehendak itulah yang Aku sebut sebagai karma.” Pernyataan itu menunjukkan bahwa suatu tindakan terutama ditentukan oleh niat yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, sīla dalam Buddhisme tidak hanya menilai perilaku yang tampak, tetapi juga kondisi batin yang menjadi sumber dari perilaku tersebut.

Penekanan pada niat tersebut sejalan dengan stanza pembuka Dhammapada (stanza-stanza 1 dan 2), yang menyatakan bahwa

“Pikiran merupakan pelopor dari segala keadaan. Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang tercemar, penderitaan akan mengikutinya sebagaimana roda mengikuti jejak kaki lembu penarik kereta. Sebaliknya, apabila seseorang bertindak dengan pikiran yang murni, kebahagiaan akan mengikutinya seperti bayangan yang setia.”

5.Sīla adalah sifat batin diri sendiri

Ajaran itu menegaskan bahwa pembinaan sīla harus dimulai dari pemerkuatan sifat batin (mental) diri sendiri, bukan hanya pengendalian perilaku lahiriah (fisik).

Dimensi sosial sīla dijelaskan secara mendalam dalam Sigālovāda Sutta (Dīgha Nikāya 31), yang sering disebut sebagai pedoman etika bagi umat awam. Dalam khotbah tersebut, Sang Buddha menguraikan kewajiban timbal balik antara orangtua dan anak, guru dan murid, suami dan istri, sahabat, majikan dan pekerja, serta umat awam dan para petapa. Hubungan-hubungan tersebut dibangun berdasarkan prinsip tanggung jawab, rasa hormat, kejujuran, dan saling membantu. Dengan demikian, sīla dalam Buddhisme tidak hanya bersifat individual, tetapi juga membantu membentuk tatanan etika sosial yang harmonis.

6.Maṅgala Sutta (Sutta Nipāta 2.4)

Selain itu, Maṅgala Sutta menguraikan berbagai berkah tertinggi dalam kehidupan, yang sebagian besar berkaitan erat dengan sīla. Menghormati orang yang patut dihormati, merawat orangtua, bekerja secara benar, berdana, hidup sesuai Dhamma, bersabar, rendah hati, dan mampu mengendalikan diri disebut sebagai faktor-faktor yang membawa kebahagiaan sejati. Hal itu menunjukkan bahwa kesejahteraan manusia tidak hanya bergantung pada kemajuan materi, tetapi juga pada sifat karakter dan perilaku etis [berhubungan dengan tata perilaku yang baik antara satu individu dan individu(-individu) lain].

7. Sīla tetap sangat relevan dalam konteks masyarakat moderen

Sīla Buddhis tetap memiliki relevansi yang sangat kuat dalam masyarakat moderen. Berbagai tantangan seperti korupsi, kekerasan, penyalahgunaan teknologi digital, penyebaran informasi palsu, hingga kerusakan lingkungan pada dasarnya berakar pada keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Buddhisme menawarkan solusi yang bersifat preventif (bersifat mencegah) melalui pendidikan sīla, pemerkuatan perhatian penuh (sati), dan pembinaan kebijaksanaan sehingga para individu mampu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan sīla dan etika, bukan dorongan emosional diri sendiri yang bersifat sesaat.

8.Sīla bukan tujuan akhir

Sīla adalah fondasi bagi berkembangnya konsentrasi dan kebijaksanaan yang mengarah pada pembebasan dari penderitaan. Melalui praktik sīla, seseorang tidak hanya membangun karakter yang luhur, tetapi juga membantu memperkuat penciptaan masyarakat yang damai, adil, dan penuh kasih.

Karena itu, ajaran sīla Sang Buddha tetap relevan sebagai pedoman etika dalam menghadapi tantangan kehidupan manusia di berbagai zaman.

9. Kesimpulan

Sīla merupakan sistem perseorangan yang menyeluruh  karena mencakup dimensi batin, perilaku, dan kehidupan bermasyarakat.

Semoga bermanfaat.

Kisah Sang Bodhisatta sd kelahiran-Nya

0

A.Kesempurnaan-kesempurnaan yang harus dikembangkan
Selain Sepuluh Pāramī, seorang Bodhisatta juga mengembangkan empat landasan ke-Buddha-an (catasso buddhabhūmiyo), yaitu:
1. Ussāha — semangat yang tak kenal lelah (viriya).
2. Ummagga — kebijaksanaan atau kecerdasan dalam menemukan jalan keluar (paññā).
3. Avaṭṭhāna — keteguhan tekad (adhiṭṭhāna).
4. Hitacariyā — perilaku yang senantiasa mengusahakan kesejahteraan semua makhluk, yang berakar pada pengembangan mettā (cinta kasih).
Selain itu, seorang Bodhisatta juga mengembangkan enam kecenderungan batin (ajjhāsaya) yang membantu pematangan ke-Buddha-an, yaitu:
• kecenderungan menuju pelepasan (nekkhammajjhāsaya),
• kecenderungan menuju kesunyian (pavivekajjhāsaya),
• kecenderungan bebas dari keserakahan (alobhajjhāsaya),
• kecenderungan bebas dari kebencian (adosajjhāsaya),
• kecenderungan bebas dari kebodohan batin (amohajjhāsaya),
• kecenderungan menuju pembebasan dari semua noda batin (nissaraṇajjhāsaya).

B.Delapan belas keadaan yang tidak pernah dialami oleh Sang Bodhisatta
Selama menjalani perjalanan menuju ke-Buddha-an, seorang Bodhisatta tidak pernah terlahir dalam delapan belas keadaan yang dianggap tidak memungkinkan tercapainya tujuan agung tersebut.
Di antaranya:
• tidak pernah lahir dalam keadaan buta,
• tidak pernah tuli,
• tidak pernah gila,
• tidak pernah bisu karena cacat,
• tidak pernah lumpuh,
• tidak pernah lahir di tengah suku-suku liar yang tidak mengenal Dhamma,
• tidak pernah lahir sebagai anak seorang budak,
• tidak pernah menjadi penganut ajaran sesat,
• tidak pernah berganti jenis kelamin,
• tidak pernah melakukan salah satu dari lima kamma yang akibatnya langsung berbuah (ānantarika-kamma),
• tidak pernah menjadi penderita kusta.

C.Apabila lahir sebagai binatang, seorang Bodhisatta tidak pernah lahir lebih rendah daripada seekor burung puyuh ataupun lebih tinggi daripada seekor gajah.
Beliau juga tidak pernah lahir:
• sebagai jenis peta tertentu,
• sebagai Kālakañjaka,
• di Neraka Avīci,
• di neraka Lokantarika,
• sebagai Māra,
• di alam tanpa persepsi (asaññasatta),
• di alam Suddhāvāsa,
• di alam Arūpa,
• maupun di sistem dunia (cakkavāla) lain.

D.Lima Pengorbanan Agung
Selain menyempurnakan tiga puluh pāramī, semua Bodhisatta harus melaksanakan Lima Pengorbanan Agung (Mahāpariccāga), yaitu mengorbankan:
1. istri,
2. anak-anak,
3. kerajaan,
4. anggota tubuh, dan
5. bahkan nyawa sendiri,
demi tercapainya ke-Buddha-an.
Seorang Bodhisatta juga harus menyempurnakan tiga jenis pengabdian (cariyā):
• pengabdian demi keluarga atau sanak saudara (ñātatthacariyā),
• pengabdian demi kesejahteraan dunia (lokatthacariyā),
• pengabdian demi pencapaian ke-Buddha-an (buddhatthacariyā).

E.Di samping itu, beliau harus melaksanakan tujuh pemberian agung (mahādāna) sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Vessantara, yang menurut kitab penjelasan arti (commentary) menyebabkan bumi berguncang sebanyak tujuh kali.

F. Lamanya perjalanan seorang Bodhisatta
Tidak semua Bodhisatta memerlukan waktu yang sama untuk mencapai Ke-Buddha-an.
Commentary  menyebutkan tiga kelompok utama:
Kelompok pertama
Menyempurnakan pāramī selama empat asaṅkheyya dan seratus ribu kappa.
Ini merupakan waktu paling singkat yang mungkin ditempuh dan diperuntukkan bagi mereka yang sangat unggul dalam kebijaksanaan (paññā).
Kelompok kedua
Menyempurnakan pāramī selama delapan asaṅkheyya dan seratus ribu kappa.
Kelompok ini unggul dalam keyakinan (saddhā).
Kelompok ketiga
Menyempurnakan pāramī selama enam belas asaṅkheyya dan seratus ribu kappa.
Ini adalah perjalanan yang paling panjang dan ditempuh oleh mereka yang terutama unggul dalam semangat atau ketekunan (viriya).

G. Kehidupan terakhir sebelum lahir sebagai manusia
Dalam kehidupan sebelum kelahiran terakhirnya sebagai manusia, semua Bodhisatta terlahir di Surga Tusita.
Usia kehidupan di Tusita berlangsung selama 576 juta tahun menurut perhitungan yang digunakan di commentary.
Namun, sebagian besar Bodhisatta meninggalkan Surga Tusita sebelum usia kehidupannya berakhir.
Salah satu kekecualian adalah Buddha Vipassī, yang tinggal di Tusita hingga masa hidupnya selesai.

H. Lima Penyelidikan Agung
Menjelang saat kelahiran terakhirnya sebagai manusia, berbagai tanda luar biasa muncul di sepuluh ribu sistem dunia.
Para dewa dari berbagai alam berkumpul di Surga Tusita dan mohon kepada Sang Bodhisatta agar turun ke dunia manusia untuk menjadi seorang Buddha.

Namun, Sang Bodhisatta tidak langsung menyetujui permohonan tersebut.
Beliau terlebih dahulu melakukan Lima Penyelidikan Agung (Pañca Mahāvilokanā), yaitu menyelidiki:
1. waktu yang tepat untuk munculnya seorang Buddha,
2. benua tempat akan dilahirkan,
3. wilayah dan keluarga tempat kelahiran,
4. calon ibu yang akan melahirkannya, dan
5. sisa umur calon ibu tersebut.

I. Menurut commentary, seorang Buddha tidak akan muncul ketika usia rata-rata manusia lebih dari 100.000 tahun ataupun kurang dari 100 tahun.
Beliau hanya akan lahir:
• di Jambudīpa,
• di Majjhimadesa (Negeri Tengah), dan
• keluarga kesatria (khattiya) atau brahmana.
Adapun calon ibu Sang Bodhisatta harus memenuhi syarat-syarat berikut ini:
• bukan wanita yang dikuasai hawa nafsu,
• bukan peminum minuman keras,
• telah menyempurnakan pāramī selama seratus ribu kappa,
• sejak lahir tidak pernah melanggar sila, dan
• memang ditakdirkan meninggal dunia tidak lebih dari sepuluh bulan tujuh hari setelah mengandung Sang Bodhisatta.

J. Turunnya Sang Bodhisatta dari Surga Tusita
Setelah memastikan bahwa kelima penyelidikan agung telah terpenuhi, Sang Bodhisatta bersama para dewa pergi ke Taman Nandana (Nandanavana) di Surga Tusita.
Di sana beliau mengumumkan kepada para dewa bahwa saatnya telah tiba untuk meninggalkan Surga Tusita dan menjalani kelahiran terakhir sebagai manusia. Setelah menyampaikan pengumuman itu, Sang Bodhisatta lenyap dari tengah-tengah mereka dan berkelahiran baru di alam manusia.

K. Mimpi Agung Sang Ibu
Pada hari terjadinya konsepsi Sang Bodhisatta, calon ibu-Nya, setelah mengikuti sebuah perayaan besar, menjalankan delapan sila, yang mencakup berpuasa dan hidup suci (berpantang hubungan suami istri).

Malam harinya, ketika beliau tertidur, beliau mengalami sebuah mimpi yang luar biasa.
Dalam mimpi itu, Empat Raja Dewa (Cātummahārājika) mengangkat tempat tidurnya dan membawanya ke Danau Anotatta di Pegunungan Himalaya.

Di sana para bidadari memandikannya dengan air yang suci, mengenakannya pakaian surgawi, menghiasinya dengan bunga-bunga dan wewangian surgawi, kemudian membaringkannya di sebuah istana emas yang dikelilingi oleh segala kemewahan surgawi.
Selanjutnya Sang Bodhisatta, yang menjelma sebagai seekor gajah putih, datang mendekati beliau sambil membawa bunga teratai putih dengan belalainya.

Kemudian, gajah putih itu kemudian memasuki rahim sang ibu melalui sisi kanan tubuhnya.
Pada saat itu seluruh bumi berguncang, dan sepuluh ribu sistem dunia dipenuhi cahaya yang sangat terang.
Sejak saat konsepsi tersebut, Empat Raja Dewa menjaga ibu dan anak siang maupun malam.

L. Masa Kehamilan
Kehamilan berlangsung tepat sepuluh bulan.
Selama masa itu, ibu Sang Bodhisatta tidak mengalami penyakit apa pun.
Commentary menjelaskan bahwa beliau bahkan dapat melihat Sang Bodhisatta di dalam rahimnya, sedang duduk bersila sebagaimana seorang guru yang sedang berkhotbah di atas mimbar.
Keadaan ini berlangsung sepanjang masa kehamilan.

M. Kelahiran Sang Bodhisatta
1. Setelah genap sepuluh bulan, sang ibu melahirkan Sang Bodhisatta.
Semua Bodhisatta, menurut commentary, lahir di sebuah taman, bukan di dalam rumah atau istana.

Demikian pula Sang Bodhisatta Gotama lahir di Taman Lumbinī.
Ketika saat kelahiran tiba, para Brahmā dari Alam Suddhāvāsa, yang telah bebas dari segala nafsu indria, terlebih dahulu menerima bayi Sang Bodhisatta dengan jala emas.
Dari mereka, bayi itu diterima oleh Empat Raja Dewa, yang kemudian membaringkannya di atas kulit kijang dan menyerahkannya kepada ibunya.
Tidak seperti bayi biasa, tubuh Sang Bodhisatta lahir bersih, tanpa diliputi lendir kelahiran.
Pada saat yang sama turun dua pancuran air dari langit:
• satu hangat,
• satu sejuk.

Kedua pancuran itu memandikan ibu dan bayi secara bersamaan.

2. Tujuh Langkah Pertama
Segera setelah dilahirkan, Sang Bodhisatta berdiri tegak di atas kedua kakinya.
Kemudian, beliau berjalan tujuh langkah ke arah utara.
Pada setiap langkah muncul bunga teratai yang menopang telapak kaki-Nya.

Sesudah itu Beliau memandang ke empat penjuru.
Tidak melihat seorang pun yang setara dengan diri-Nya dalam kebijaksanaan maupun kesempurnaan, Sang Bodhisatta mengucapkan pernyataan kemenangan bahwa:
• Beliau adalah yang tertinggi di dunia.
• Kelahiran ini merupakan kelahiran terakhir-Nya.
• Sesudah kehidupan ini tidak akan ada kelahiran kembali lagi.

Commentary juga menyebutkan bahwa Sang Bodhisatta Gotama pernah berbicara segera setelah lahir pada tiga kehidupan:
1. ketika terlahir sebagai Mahosadha,
2. ketika terlahir sebagai Vessantara, dan
3. pada kelahiran terakhir sebagai Pangeran Siddhattha Gotama.

N. Wafatnya Sang Ibu
Tepat tujuh hari setelah melahirkan, ibu Sang Bodhisatta meninggal dunia.
Menurut commentary, hal itu terjadi karena seorang wanita yang telah mengandung seorang Bodhisatta pada kehidupan terakhir tidak akan mengandung makhluk lain lagi.
Sebab itu, panjang umur beliau telah ditentukan sedemikian rupa sehingga berakhir tujuh hari setelah kelahiran seorang Bodhisatta.
Commentary juga menyatakan bahwa usia ibu Sang Bodhisatta ketika melahirkan berada di kisaran lima puluh hingga enam puluh tahun.

O. Mukjijat-mukjijat kelahiran
Kelahiran terakhir seorang Bodhisatta selalu disertai berbagai mukjijat.
Commentary menafsirkan bahwa setiap peristiwa luar biasa yang terjadi pada masa kelahiran tersebut merupakan lambang dari sifat-sifat Buddha serta Dhamma yang kelak akan beliau ajarkan.

P. Tiga Puluh Dua Tanda Manusia Agung
Tidak lama setelah kelahiran, para brahmana ahli nujum dipanggil untuk memeriksa bayi tersebut.
Mereka menemukan pada tubuh Sang Bodhisatta tiga puluh dua tanda Mahāpurisa (Manusia Agung).
Berdasarkan tanda-tanda itu, mereka meramalkan bahwa anak tersebut hanya memiliki dua kemungkinan masa depan:
1. menjadi seorang Cakkavatti (Raja Pemutar Roda yang memerintah seluruh dunia dengan kebajikan), atau
2. menjadi seorang Buddha yang Tercerahkan Sempurna.

Ayah Sang Bodhisatta tentu menginginkan putranya menjadi seorang Cakkavatti.
Karena itulah ia membesarkan putranya di tengah kemewahan yang luar biasa dan berusaha menyembunyikan dari beliau segala sesuatu yang berkaitan dengan:
• usia tua,
• penyakit,
• kematian, dan
• kehidupan seorang petapa.

Namun, takdir seorang Bodhisatta tidak mungkin dihalangi.

Q. Pada akhirnya beliau tetap melihat empat pemandangan agung yang menggugah batinnya:
1. seorang tua,
2. seorang sakit,
3. seorang mati, dan
4. seorang petapa yang hidup tenang.

Pada beberapa Buddha masa lampau, keempat pemandangan ini terlihat pada waktu yang berbeda-beda.
Namun, pada Bodhisatta yang lain, semuanya dapat terlihat pada hari yang sama.
Didorong oleh keinginan untuk menemukan sebab penderitaan dan jalan menuju akhir penderitaan, akhirnya Sang Bodhisatta meninggalkan kehidupan duniawi tepat pada hari kelahiran putra-Nya.

Diambil dan diedit oleh PMd Tjan Sie Tek, Penerjemah Tersumpah, dari Bodhisattta di Dictionary of Pali Proper Names oleh Prof. Dr. G.P. Malalasekara (1899-1973)

General Partnership

0

Istilah general partnership artinya firma. Semua peseronya memiliki tanggung jawab yang tidak terbatas pada jumlah seronya saja melainkan semua utangnya. Ada tiga jenis peseronya: (i) secret partner (pesero atau sekutu rahasia) yaitu pesero yang aktif tetapi tidak mengungkapkan identitasnya kepada masyarakat; (ii) silent partner (pesero atau sekutu diam) yang diketahui oleh umum sebagai pesero tetapi tidak aktif dalam pengelolaan perseroan; dan (iii) dormant partner (pesero atau sekutu tidur) yang tidak diketahui oleh umum sebagai pesero dan juga tidak aktif dalam pengurusan.

Tentang arti-arti lain sejumlah isitlah investasi, silakan kunjungi www.tjansietek.com/dictionary/

Limited Partnership

0

Commanditaire Venootschap (CV). Dalam CV, ada dua jenis pesero: (i) general partner (pesero aktif, BUKAN pesero atau sekutu umum) yang mengurus perseroan dan bertanggung jawab untuk semua utang perseroan selain jumlah uang seronya; dan (ii) limited partner (pesero diam) yang tidak boleh aktif mengelola perseroan tetapi tanggung jawabnya hanya terbatas pada jumlah uang seronya.

Untuk sejumlah istilah investasi lain dalam bahasa Inggeris, silakan kunjungi www.tjansietek.com/dictionary/

Strategic sale

0

Strategic sale sangat terkait dengan strategi perusahaan. Seperti namanya, strategic sale adalah tindakan yang dilakukan sebagai bagian dari rencana strategis perusahaan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Ini bukan sekadar penjualan aset atau bisnis untuk keuntungan jangka pendek, melainkan langkah yang dirancang untuk mendukung visi dan misi perusahaan secara keseluruhan.

Hubungan Strategic Sale dengan Strategi Perusahaan:

1. Fokus pada Bisnis Inti:

   – Perusahaan mungkin menjual divisi atau aset yang tidak lagi sejalan dengan strategi utama mereka. Ini membantu perusahaan berkonsentrasi pada area bisnis yang paling menguntungkan atau memiliki prospek pertumbuhan terbaik. Selanjutnya, silakan kunjungi https://tjansietek.com/strategic-sale/